Saksi Bisu
Mentari beranjak meninggalkanku saat mereka kembali pulang. Mereka duduk di tempat yang sama setiap harinya. Seorang nenek tersenyum melihat tingkah cucu-cucunya. Ada yang tertawa dan ada yang menangis. Aku dapat merasakan apa yang mereka rasakan. Anak paling besar menunjuk Ciko yang seharian mejagaku, ia ingin mengajaknya bermain. Sementara itu, anak terkecil menangis dalam gendongan ibunya. Dia justru ketakutan melihat anjing itu. Suasana seperti ini sangat kusenangi, satu keluarga penuh kehangatan dan selalu ramai oleh tingkah pola anak-anak. Tak terasa, sorotan lampu yang baru dinyalakan akan menggantikan cahaya yang dari tadi menerangiku lewat jendela. Hari mulai gelap dan kerinduan malam akan segera menyapaku.



1
