Angkatan Kata AntarBenua

Komunitas menulis di Museum Konperensi Asia-Afrika.

Saksi Bisu

Mentari beranjak meninggalkanku saat mereka kembali pulang. Mereka duduk di tempat yang sama setiap harinya. Seorang nenek tersenyum melihat tingkah cucu-cucunya. Ada yang tertawa dan ada yang menangis. Aku dapat merasakan apa yang mereka rasakan. Anak paling besar menunjuk Ciko yang seharian mejagaku, ia ingin mengajaknya bermain. Sementara itu, anak terkecil menangis dalam gendongan ibunya. Dia justru ketakutan melihat anjing itu. Suasana seperti ini sangat kusenangi, satu keluarga penuh kehangatan dan selalu ramai oleh tingkah pola anak-anak. Tak terasa, sorotan lampu yang baru dinyalakan akan menggantikan cahaya yang dari tadi menerangiku lewat jendela. Hari mulai gelap dan kerinduan malam akan segera menyapaku.

Read More

Ayah Pulang Cepat

Hari ini ayah pulang cepat. Kusempatkan memakai pakaian yang menurutku pantas untuk menyambut ayah. Saat berjalan menuju rumah, kulewati halaman yang luas, di mana daun-daun jatuh berguguran, dan tentu saja banyak jejak-jejak kaki yang tercetak di tanah. Hari ini ayah terlihat lelah, tetapi senyumnya kepadaku tetap terlukis di wajahnya. Dan entah mengapa ikat pinggangku terasa sempit, rasanya ingin sekali dilepaskan. Tapi, kupikir tak apalah karena sebentar lagi akan sampai rumah.

Dari sini aku bisa melihat rumahku dengan jelas. Di depanku yang tak begitu jauh, kulihat pintu bunker yang selalu digunakan aku dan keluargaku untuk perlindungan, jikalau ada bahaya yang mengancam. Dan jauh di depan sana, dapat kulihat dua pohon tepat di sebelah kanan rumahku. Sering sekali aku bermain di bawah pohon itu bersama saudara-saudaraku, sambil menunggu ayah pulang. Dan kalau berbuah, buahnya pasti selalu banyak, dan aku selalu minta tolong pada seseorang yang bisa mengambil buahnya untukku.

Read More

Malam Ini

Foto di hadapan saya adalah foto seorang laki-laki yang duduk bersandar pada rak buku. Ia tidak kurus ataupun gemuk. Tidak tersenyum, tetapi juga tidak merengut. Pakaiannya rapi: mengenakan celana bahan dan kemeja lengan panjang kotak-kotak. Kerahnya dibiarkan bebas tanpa dasi. Sebuah lampu baca menyala di atas rak. Barangkali foto ini diambil pada malam hari. Bayangan hitam menutup pandangan mata laki-laki ini.

Malam ini aku pulang jam delapan. Usai kelas, Vijay, Rahul, dan beberapa kawan lain mengajakku belajar bersama. Mata kuliah Perbandingan Politik memang lebih masuk akal bila didiskusikan terbuka. Bukan dengan metode pengajaran satu arah di dalam kelas. Setelahnya, Vijay mengajak kami ke bar. Beberapa pekan silam hubungannya kandas dengan Soraya, sejak itu setiap melihat perempuan sebuah tanduk seperti tumbuh di atas kepala Vijay. Tindak-tanduknya menunjukkan ia siap menyeruduk apapun yang memakai rok. Rahul yang juga single kontan menerima ajakan Vijay. Vijay dan Rahul membujukku ikut, tetapi aku bilang sudah mengantuk dan besok mesti bangun lebih awal. “Kuliah pagi,” ujarku. Rahul tahu aku beralasan, tetapi melihat tatapanku, ia diam saja.

Read More

Ini kisahku di hari Jum’at.

Seperti biasa hari Jum’at adalah hari wajib bagi pria umat muslim untuk melaksanakan shalat Jum’at.

Aku sudah menjadwalkan untuk mencukur rambutku sebelum pergi shalat Jum’at. Aku akan mendatangi tukang cukur langgananku pukul 08.00. Aku akan bangun jam 05.30 untuk shalat Shubuh, tidur lagi sebelum membereskan rumah dan sarapan. Mandi jam 07.30 dan berangkat ke tukang cukur jam 08.00. Jarak tukang cukur langgananku tidak jauh dari rumah, dengan berjalan kaki bisa ditempuh dengan waktu 5 menit.

Tapi seperti biasa, aku bangun kesiangan setelah tidur lagi selepas jam 06.00 dan aku baru bangun jam 08.00. Semalam temanku datang dan kami ngobrol sampai jam 03.00 pagi. Karena bangun kesiangan, mandipun jadi terburu-buru dan aku berpakaian seadanya, yang penting nyaman. Aku pakai sandal jepit yang kutemukan,  sepertinya milik temanku yang masih tertidur.

Read More

#1 Sosok Dalam Foto

Entah berapa kali saya masuk ke ruang audiovisual Museum KAA. Setiap minggu ruang biru ini menjadi tempat berlangsungnya diskusi buku, pemutaran film, hingga pertemuan klab bahasa asing. Saya hapal betul warna karpet, film-film di lemari, hingga saklar-apa-untuk-menyalakan-lampu-yang-mana. Namun Kamis ini (29/9) suasananya berbeda. Selimut hijau yang ditaruh di atas dua meja putih membuatnya kelihatan seperti meja makan panjang. Kertas-kertas polos diletakkan sejajar dengan sejumlah kursi merah yang mengelilingi meja. Ruangan sudah ditata agar nyaman dipakai menulis. Pertemuan pertama Angkatan Kata AntarBenua akan segera dimulai.

Akan tetapi, saat jam menunjukkan pukul empat kurang lima menit, di sana baru ada saya dan Pak Desmond.

“Pak, kalo nggak ada yang dateng gimana?” tanya saya.

Read More